A. Sumber
Daya Alam Hayati Antar Region
Tahukah
kalian apa saja yang termasuk SDA hayati ? Berikut ini akan dijelaskan,
bagimana keunggulan potensi SDA hayati region/wilayah di Indonesia.
1.
Pertanian
Pertanian Indonesia
sudah terkenal sejak dulu sebagai negara agraris. Tanaman yang awalnya
dibudidayakan di kebun atau pekarangan (Hortikultura), berasal dari bahasa
Latin: “hortus” (tanaman kebun, dan “cultura/colere”). Buah durian yang
termasuk dalam familia Bombaceae, asalnya adalah dari daerah tropis di Asia
(Malaysia) kemudian menyebar ke Asia Tenggara kemudian ke berbagai belahan
dunia. Negara-negara yang menjadi pesaing Indonesia sebagai penghasil buah
durian, adalah: Thailand dan Malaysia. Adapun sentra produksi durian di
Indonesia, adalah: Sumatera Utara, Riau, Jambi, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat. Varietas yang direkomendasikan untuk
dibudidayakan, adalah: sunan, sukun, petruk, kane, sitokong, mas, matahari, dan
hepe.
Tanaman padi merupakan salah satu tanaman pangan yang
paling populer di Indonesia ,
karena jumlah konsumsinya paling banyak diminati, bahkan sampai diimpor dari
negara tetangga. Tapi perlu kalian ketahui, bahwa ada juga yang diekspor,
misalnya: beras organik dari Sragen. Tanaman pangan di Indonesia tidak hanya
bergantung pada padi, karena makanan pokok orang Indonesia itu bermacam ragam.
Contoh tanaman pangan, adalah: padi, jagung, kacang, kedelai, kentang, ubi, dan
lain-lain. Di Kabupaten Gunung Kidul, DIY, masyarakay Gunung Kidul
mengembangkan ubi untuk diolah menjadi: tiwul, gaplek, dan gatot, untuk
memenuhi kebutuhannya. Hal itu dikarenakan tanahnya kurang sesuai untuk
ditanami padi.
2. Kehutanan
Kehutanan Indonesia adalah negara kepulauan terbesar
di dunia yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau yang terdiri dari 193 juta ha
daratan dan 500 juta ha lautan. Selain itu, Indonesia juga menguasai 10%
tumbuhan, 17% burung, 12% mamalia, 16% reptil/amphibi, dan lebih dari 25% ikan
di dunia. Secara faktual, kekayaan hutan Indonesia adalah hutan tropis terbesar
kedua di dunia setelah Brazil. Di samping itu, hutan di wilayah Indonesia
merupakan salah satu paru-paru dunia yang berfungsi sebagai filter dalam
mengurangi pemanasan global secara signifikan. Hasil produksi utama dari hutan
Indonesia adalah: kayu bulat. Kayu bulat merupakan semua kayu bulat yang
ditebang atau dipanen yang dapat dijadikan sebagai bahan baku produksi
pengolahan kayu hulu (IPKH). Kalimantan memiliki kayu yang sangat membanggakan,
namanya: Kayu Ulin. Kayu ulin yang dalam bahasa Inggrisnya: Iron Wood, memiliki
kekuatan seperti besi, dan kalau direndam di air maka kayu Ulin akan semakin
kokoh. Jati merupakan sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohonnya
besar, berbatang lurus dan dapat tumbuh sampai mencapai tinggi 30-40 m, berdaun
besar yang luruh di musim kemarau. Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa
Inggris). Di Indonesia, Kabupaten Blora dikenal sebagai daerah penghasil kayu
jati terbaik di dunia.
Kayu jati menjadi komoditas penting di Blora, sebab
49,66% dari luas Kabupaten Blora merupakan hutan yang terbagi atas tiga
kesatuan administrasi Pemangku Hutan (KPH), yaitu: KPH Randublatung, KPH Cepu,
dan KPH Blora. Kita boleh berbangga sebagai masyarakat dari negara yang kaya
atas sumber bahan baku kayu. Disamping industri kayu, hutan Indonesia memiliki
hasil hutan lainnya, seperti: rotan, tumbuhan obat, getah, dan bambu, yang
secara umum lebih dikenal sebagai hasil hutan non kayu.
Berikut ini adalah beberapa contoh hasil hutan non
kayu beserta potensi yang dimiliki. - Potensi Rotan Hutan rotan di Papua
merupakan habitat alam rotan terbesar di Indonesia dengan luas sebesar
2.215.625 ha. Berdasarkan hasil orientasi/cruising, sebaran hutan rotan berada
di Kabupaten Nabire, Jayapura, Manokwari, dan Merauke. - Sagu Sebagian besar
tegakan sagu tumbuh pada daerah gambut pantai. Hutan sagu di Provinsi Papua,
luasnya sekitar 4.769.548 ha dan diperkirakan telah dimanfaatkan secara
tradisional sekitar 14.000 ha. Sebaran hutan sagu di Papua berada di wilayah
Kabupaten Sorong, Manokwari, Jayapura, Merauke, dan Yapen Waropen. - Nipah
Nipah berpotensi sebagai sumber pangan alternatif selain pada. Kandungan gizi
gula nipah cukup baik, yaitu: kabohidrat (89,61%), protein (5,95%), kadar Ca
(44,58 mg/kg), dan kalori (3.172 cal/gr).
3.
Perikanan
Indonesia memiliki luas wilayah laut yang lebih besar
dari jumlah luas daratan. Sektor kelautan dan perikanan Indonesia, memiliki
potensi yang sangat besar dan dapat diandalkan menjadi salah satu penggerak
utama perekonomian nasional. Potensi ekonomi kelautan dan perikanan Indonesia,
diperkirakan mencapai 1,2 triliun dollar AS setiap tahunnya. namun demikian,
potensi kelautan dan perikanan Indonesia yang baru dimanfaatkan diperkirakan
masih kurang 10%. Menurut studi McKinsey Global Institute, ekonomi Indonesia diproyeksikan
akan menjadi yang ke-7 dunia pada tahun 2030 dengan empat besar setor yang akan
menjadi penopang utamanya, yaitu: sumber daya alam, pertanian, perikanan, dan
jasa.
a)
Komoditi Laut Indonesia Salah satu komoditi di bidang
perikanan laut Indonesia, adalah: ikan tuna. Ikan tuna hampir terdapat disemua
kawasan perairan Indonesia. Ikan tuna yang besar, biasanya dapat dijumpai
dikawasan yang memiliki laut dalam. Beberapa perairan yang menjadi pusat ikan
tuna di Indonesia, adalah: Laut Bali, Laut Sewu, Laut Flores, Laut Arafuru, dan
Laut Banda. Daerah yang terkenal sebagai kawasan fishing ground ikan tuna,
banyak terdapat di perairan Sumatera bagian Selatan dan Barat. Selain itu, bisa
ditemukan juga di Selatan Jawa, Bali, Laut Maluku, Nusa Tenggara, dan Laut
Banda, ini menunjukkan bahwa hampir semua perairan Indonesia terdapat ikan tuna.
b)
Komoditi Air Tawar Indonesia Peluang bisnis dari budidaya
ikan air tawar juga masih sangat tinggi, pada tahun 2012 konsumsi ikan per
kapita penduduk dunia akan mencapai 19,6 kg/tahun. meskipun sebagian besar
konsumsi ikan saat ini dipasok oleh hasil perikanan laut, namun diperkirakan
pada tahun 2018 produksi ikan air tawar akan menyalip produksi perikanan
tangkap (ikan laut). Indonesia memiliki danau penghasil ikan air tawar terbesar
di dunia. Di Wajo Sulawesi Selatan, Danau Tempe merupakan penghasil ikan air
tawar paling besar di dunia. Ikan gurame, merupakan spesies ikan air tawar yang
paling populer untuk konsumsi. Ikan gurame adalah ikan air tawar asli
Indonesia. Di Indonesia, kota Tasikmalaya terkenal sebagai daerah pemasok
gurame. Jawa Barat juga dikenal dengan pengembangan bibit ikan mas yang
berkualitas. Ikan arwana, botia, dan cupang, merupakan jenis ikan hias air
tawar asal Indonesia yang menjadi favorit di luar negeri. Ikan Arwana dan
botia, merupakan dua jenis ikan asli habitat Indonesia. Ada tiga jenis ikan
arwana, yaitu:
(1) arwana jardini dari Papua,
(2) arwana super-red dan hijau dari Kalimantan, serta
(3) arwana golden-red dari Sumatera, Riau, Jambi, dan
Kalimantan.
Sentra pengembangan ekspor ikan hias terbesar di
Indonesia, berada di Cibinong (Cibinong Raiser).
c)
Komoditi Air Payau Indonesia Saat ini budidaya air payau,
khususnya tambak dengan komoditas udang dan ikan bandeng, masih menjadi
unggulan di Indonesia. Ikan bandeng adalah salah satu jenis ikan yang dapat
dengan mudah dibudidayakan di laut maupun di tambak. Ikan yang dikenal dengan
nama “milk fish” ini, banyak ditemui hasil pembudidayaannya di Pulau Jawa.
Bandeng juga menjadi komoditas unggulan di Provinsi Sulawesi Tenggara dan
Sulawesi Selatan. Di Pulau Sumatera, produksi bandeng tertinggi berada di Aceh
dan Lampung. Komoditi air payau paling berprospek kedua, adalah: udang windu.
Merupakan jenis udang yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Sentra budidaya udang windu sendiri, terletak
di Provinsi Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan. Berikutnya
adalah ikan belanak. Tidak banyak orang yang mengetahui ikan belanank ini,
padahal sudah banyak dibudidayakan di Pulau Jawa dan sebagian Pulau Kalimantan.
Selain itu, kepiting juga sudah dapat dibudidayakan, meski belum begitu pesat
karena komoditas jenis ini masih belum dikenal luas. Sentra budidaya kepiting
di Indonesia terdapat di Provinsi Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan
Timur.
4.
Peternakan
Komoditi
Peternakan Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia,
hal ini menjadikan Indonesia sebagai pasar yang potensial untuk sektor pangan
dan ternak. Jumlah umat Islam 207 juta dari sekitar 259 juta jiwa total
penduduk Indonesia, bila 10% saja melaksanakan kewajiban kurban, maka
dibutuhkan 20,7 juta lebih ternak setiap tahunnya. Sungguh, merupakan pasar yang
besar. Ironisnya, ketergantungan Indonesia sangat besar terhadap impor dari
negara asing. Importir beralasan, bahwa: “populasi dan produksi ternak di dalam
negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional”. Sehingga, kebutuhan
impor bisa menjadi solusi. Terlepas dari pendapat yang mendukung dan kontra,
maka perhatian terhadap peternakan sangat penting di Indonesia.
B.
Sumber Daya Alam Non Hayati Antar Region
Keunggulan Sumber Daya Energi Indonesia Wilayah
Indonesia yang demikian luas, terkandung sumber daya alam dan potensi energi
yang melimpah, baik di dalam permukaan tanah maupun di atas permukaan tanah.
Dalam perut bumi Indonesia, terkandung: mineral, batu bara, gas, dan minyak
bumi, yang merupakan hasil proses fosil berjuta tahun yang lalu. Sumber daya
energi tersebut merupakan campuran yang sangat kompleks dari senyawa-senyawa
hidrokarbon dan unsur lain dalam jumlah kecil, seperti: belerang, nitrogen, oksigen,
vanadium, nikel, besi, tembaga, air dan garam-garam. Sabuk gunung api Pasifik
yang melintas Pulau Sumatera, Jawa, hingga ke Timur, merupakan potensi kekayaan
lain dari bumi Indonesia. Dalam hal sumber daya energi, keadaan tersebut
menyimpan potensi kandungan energi panas bumi yang melimpah. Kebutuhan energi
di Indonesia semakin meningkat, dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan oleh
pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat, pembangunan
industri yang semakin pesat, dan pembangunan wilayah yang terus terjadi di
Indonesia. Potensi sumber daya energi di Indonesia cukup melimpah, mulai dari
sumber daya energi tak terbarukan yang berasal dari fosil, seperti: minyak
bumi, batu bara, dan gas alam. Indonesia memiliki banyak potensi sumber daya energi
terbarukan, dibandingkan dengan sumber energi yang berasal dari fosil.
Sumber energi terbarukan
adalah sumber energi yang dapat diperbarui lagi dan ketersediaannya melimpah di
dalam seperti: sinar matahari, angin, air, dan panas bumi. Sumber energi terbarukan,
tidak dapat langsung dipakai melainkan harus diolah terlebih dahulu menjadi
bentuk yang lain agar dapat dimanfaatkan. Mari kita cermati lebih mendalam
tentang keunggulan potensi sumber daya alam antar region di Indonesia pada
beberapa sumber energi terbarukan berikut.
1. Sinar Matahari
Wilayah Indonesia terletak disepanjang
garis khatulistiwa. Menurut para ahli, wilayah ini termasuk wilayah tropis yang
memiliki keunggulan dalam hal penyinaran matahari. Sepanjang tahun, wilayah
tropis selalu terkena oleh cahaya matahari selama kurang lebih 10-12 jam per
hari. Potensi sinar matahari di Indonesia ini sangat perlu dimanfaatkan,
mengingat total intensitas rata-rata 4,5 kWh per meter persegi per hari.
Pemanfaatan sumber energi dari sinar matahari di Indonesia diwujudkan dalam
bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Di Indonesia, suda ada beberapa
PLTS yang dibangun, seperti: PLTS di Daruba Morotai, dan PLTS Bali.
2. Angin
Wilayah Indonesia yang berada
disekitar daerah ekuator, merupakan pertemuan sirkulasi: Hadley, Walker, dan
lokal. Kedua sirkulasi tersebut, berpengaruh terhadap pola pergerakan udara di
Indonesia. Kondisi ini menyebabkan angin dapat dimanfaatkan sebagai salah satu
alternatif sumber energi di Indonesia. Beberapa lokasi di Indonesia, merupakan
ladang angin yang bisa digunakan untuk menghasilkan energi listrik hingga 900
megawatt. Namun demikian, sirkulasi Walker dapat berpengaruh terhadap kejadian
El-Nino dan La-Nina. Sementara itu, sirkulasi Hadley berpengaruh terhadap
kondisi iklim lokal di Indonesia. Lokasi ladang angin tersebut, antara lain:
dibagian Selatan Pulau Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur. Namun saat ini,
baru dua pembangkit listrik tenaga angin, yaitu: di Papua dan Sulawesi Selatan.
3. Panas Bumi (geothermal)
Indonesia mempunyai potensi geothermal
yang sangat besar, karena terletak dikawasan cincin api (ring of fire) dunia.
Kondisi ini mengakibatkan di wilayah Indonesia, tersebar rangkaian gunung api
dari ujung Pulau Sumatera sampai dengan wilayah Timur Indonesia. Keberadaan
banyak gunung api di Indonesia berakibat pada tingginya potensi sumber panas
bumi. Indonesia secara geologis terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik
utama, yaitu: Lempeng Eropa-Asia, India-Australia, dan Pasifik, yang berperan
dalam proses pembentukkan gunung api di Indonesia. Manifestasi panas bumi yang
berjumlah tidak kurang dari 244 lokasi, tersebar di: Pulau Sumatera, Jawa,
Bali, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Halmahera, Papua, dan Kepulauan Nusa
Tenggara. Wawasan Indonesia memiliki total 40% potensi geothermal yang ada di
dunia. Namun, potensi yang baru dikembangkan hanya sebesar 4% dari total
potensi yang ada. Panas bumi dapat dimanfaatkan menjadi salah satu alternatif
sumber energi di Indonesia, melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga panas
bumi (geothermal) yang biasa disingkat PLTG. Pemanfaatan potensi panas bumi,
memiliki beberapa keuntungan, yaitu: ramah lingkungan dan ketersediaannya
sangat melimpah di Indonesia. Beberapa PLTG yang sudah beroperasi di Indonesia,
antara lain: PLTG Sibayak, PLTG Dieng, dan PLTG Gunung Salak. Selama ini,
penggunaan energi tak terbarukan di Indonesia lebih dominan jika dibandingkan
dengan penggunaan energi terbarukan. Renungkan Indonesia merupakan negara yang
kaya akan sumber daya alam, terutama sumber energi terbarukan. Sampai saat ini,
Indonesia masih belum mengembangkan sumber daya energi terbarukan secara
maksimal. Indonesia masih bergantung pada sumber energi yang berasal dari
fosil.
4. Perairan
Keunggulan Sumber Daya Perairan di
Indonesia Sejak Dewan Maritim Indonesia Departemen Kelautan dan Perikanan
berdiri pada tahun 1999, geliat pembangunan kelautan mulai menunjukkan
hasilnya. Dari perspektif geopolitik, hukum, dan perundangan di bidang kelautan
telah disusun dan disempurnakan. Berkat kerja sama sinergis antar intansi
terkait, antara lain Departemen Kelautan dan Perikanan, Dishidros TNI AL,
Bakosurtanal, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Luar Negeri, kita pun
telah berhasil mempublikasikan peta NKRI sejak 2 Mei 2003. Dari perspektif
geoekonomi, pembangunan ekonomi kelautan di sektor perikanan, perhubungan laut,
pariwisata bahari, pertambangan, dan industri maritim pun terus mengalami
perbaikan. Perairan di Indonesia, lebih luas dibandingkan dengan daratannya.
Kondisi ini menyebabkan potensi sumber daya laut, sangat melimpah di Indonesia.
a) Sungai
Indonesia memiliki sangat banyak
sungai dan anak-anak sungai yang berpotensi untuk menyediakan sumber air yang
dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat. Penyediaan
air berkaitan erat dengan berapa potensi/ketersediaan sumber daya air yang
tersedia pada suatu daerah. Perhatikan sungai-sungai di Indonesia dan panjang
penggalan sungai yang dapat dilayari.
b) Danau
Jumlah danau di Indonesia, mencapai ribuan. Menurut
data Kementerian Lingkungan Hidup, diperkirakan sebanyak 840 danau besar dan
735 danau kecil. Dari total jumlah tersebut, danau di Indonesia mampu menampung
hingga 500 km3 air, atau 72% dari total persediaan air permukaan di Indonesia.
Daya tamping air yang cukup besar tersebut, maka danau menjadi andalan
persediaan air untuk: sektor pertanian, sumber air baku masyarakat, perikanan,
PLTA, pariwisata, dan lain sebagainya. Air Tanah Potensi air tanah tergantung
pada faktor: geologi, geomorfologi, dan iklim. Di Indonesia, terutama di
lereng-lereng pegunungan, wilayah cekungan, dan dataran aluvial, mempunyai
potensi air tanah yang tinggi di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar